Senin, 03 Desember 2012

kentrung tradisional






Kentrung Tradisional
(Yulian Firdaus)[1]

Kocap kacarito
Ya la illallaha illalah
Ya Muhammad ya Rasulullah
Tankocapo rikolo jaman semono yo semono[2]

Kentrung merupakan salah satu seni pertunjukan yang berupa cerita bertutur atau sastra lisan. Sastra lisan ialah karya sastra yang diciptakan dan disampaikan secara lisan dengan mulut, baik di dalam suatu pertunjukan seni maupun luarnya. Sastra lisan umumnya hidup dan berkembang di dalam masyarakat yang belum atau sedikit mengenal tulisan, yaitu masyarakat pedesaan yang jauh dari kota. Hal ini bukanlah berarti bahwa sastra lisan tidak terdapat pada masyarakat yang mengenal tulisan. Seni kentrung sudah ada sejak tahun 1915. Tersebar di sekitar pesisir utara pulau Jawa (Hutomo,1993:28).
Kentrung adalah seni bercerita, dimana seorang dalang membawakan suatu cerita dengan diiringi oleh musik, dan diselingi dengan pantun yang disebut dengan parikan. Pada setiap pementasannya, kentrung dimainkan oleh empat sampai enam orang yang bertindak sebagai dalang sekaligus berperan sebagai wayang atau tokoh dalam cerita, pengrawit atau panjak, dan waranggana (pesinden). Dalam pertunjukan kesenian kentrung seorang dalang mengidentikkan dirinya dengan para tokoh dalam cerita yang dituturkannya. Sedangkan para panjak bertugas mengiringi cerita kentrung dengan membunyikan alat instrumen gamelan yang ditabuhnya dan memberikan selingan berupa parikan. Posisi panjak bisa dirangkap oleh dalang, artinya seorang dalang yang sambil bercerita ia pun sambil menabuh instrumen kentrung, terutama instrumen kendang (Hutomo, 1993:16). Biasanya dalam suatu pertunjukan kesenian tradisional kentrung yang menjadi ciri khasnya adalah adanya seorang dalang kentrung dan panjak yang memakai kacamata hitam.
Mengenai pengertian kata kentrung menurut Hutomo (1993:28) ada beberapa pendapat. Pendapat-pendapat ini pada garis besarnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu berdasarkan penyingkatan dua kata, dan berdasarkan bunyi yang dikeluarkan oleh instrumen yang mengiringi pertunjukan kentrung. Pendapat-pendapat itu antara lain kentrung berasal dari kata ngreken (menghitung) dan ngantrung (berangan-angan), maksudnya mengatur jalan cerita dengan berangan-angan. Pendapat lain adalah bahwa kentrung berasal dari kata kluntrang-kluntrung atau untrang-untrung, artinya,pergi mengembara kian kemari, hal ini menggambarkan kehidupan seorang dalang kentrung yang banyak mengamen. Ada yang menyebut dari kata kluntrang-kluntrung (pergi mengembara kesana kemari), ada pendapat lain mengatakan dari istilah leken-leken (sungguh-sungguh) dan jlentrang-jlentrung (memerhatikan sesuatu yang penting).
Pengertian kata kentrung yang lebih masuk akal ialah pengertian yang didasarkan pada bunyi yang dikeluarkan oleh instrumen kesenian kentrung. Instrumen ini berwujud terbang (rebana) yang dibuat sedemikian rupa sehingga jika dipukul instrumen tersebut akan berbunyi trung,......trung........trung......... dari bunyi trung inilah asal nama kentrung (Hutomo, 1993:28).
Hampir sama seperti penamaan yang didasarkan pada bunyi yang dihasilkan oleh benda (onomatope). Contoh: nama jangrik berasal dari hewan serangga yang berbunyi krik krik, gong yang berbunyi gung gung, dsb.
Dalang
Dalang oleh orang Jawa yang diartikan sebagai pangudal piwulang yang artinya menyampaikan sesuatu untuk disampaikan kepada khalayak, memberikan pengetahuan kepada orang lain melalui sebuah media. Istilah dalang sering didengar terutama dalam kesenian tradisional Jawa seperti halnya dalam kesenian wayang, kesenian kentrung, jemblung, dll. Profesi dalang biasanya disandang oleh kaum laki-laki. Hal itu disebabkan adanya pandangan bahwa laki-laki dianggap lebih menguasai pedalangan. Namun dalam kesenian tidak ada pembedaan terhadap identitas jenis kelamin. Seperti diungkapkan Soetarno (1995:38) bahwa seorang dalang mempunyai kedudukan sentral dalam pertunjukan. Tidak ada keharusan bahwa dalang haruslah pria, yang terpenting adalah bahwa, ia dapat mendalang dan diterima oleh masyarakat sebagai dalang. Pekerjaan dalang didasarkan atas tradisi yang diturunkan secara lisan (Groenendael,1987:6). Untuk istilahnya biasa disebut dengan nyantrik (mengabdi pada seseorang yang lebih unggul).
Panjak
Panjak bertugas mengiringi cerita kentrung dengan membunyikan alat instrumen rebana ,terbang,  gamelan, yang ditabuhnya dan memberikan selingan/senggak’an cerita maupun berupa parikan. Posisi panjak bisa dirangkap oleh dalang, artinya seorang dalang yang sambil bercerita ia pun sambil menabuh instrumen kentrung.
Cerita
Unsur-unsur cerita yang membangun cerita terdiri dari unsur dalaman (struktur batin) dan unsur-unsur luaran (struktur non batin). Kedua unsur itu saling berkorespondensi sesamanya dalam proses kreatif dalang kentrung. Unsur-unsur dalaman cerita terdiri dari batang tubuh cerita yang mengandung pendahuluan cerita dan penutup cerita. Beberapa cerita kentrung, antara lain: Laire Nabi Musa, Laire Nabi Yusup, Laire Nabi Ibrahim, Laire Nabi Isa, Joharmanik, Ngadege Mesjid Demak, Ki Ageng Mangir, Laire Jaka Tarub, Arya Penangsang, Damarwulan, Empu Supa, Laire Jaka Tingkir, Laire Raden Patah, Ajisaka, Anglingdarma, dan lain-lain.
Penonton
Penonton merupakan unsur yang penting dalam peertunjukan. Sebagai sarana penyampaian cerita, pesan atau hiburan, penonton dapat juga berpartisipasi dalam parikan, selingan dsb.
Fungsi
Folklor mempunyai kegunaan (function) dalam kehidupan bersama suatu kolektif. Cerita rakyat misalnya, mempunyai kegunaan sebagai alat/media pendidikan, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam.
Teater rakyat memiliki keistimewaan ialah ia bisa berkomunikasi langsung dengan masyarakat lingkungannya untuk mengikuti masalah-masalah sosial dan pembangunan yang dihadapi. Bahkan masyarakat lingkungan sadar atau tidak sadar merupakan sumber ilham bagi pencipta-pencipta cerita yang akan dipentaskan dalam teater rakyat (Raharjo, 1986:59).
Kesenian kentrung tidak hanya ditampilkan sebagai hiburan saja. Fungsi pertunjukan kentrung bagi masyarakat setempat sebagai media penyampaian pesan pendidikan agama, nasihat serta hiburan.
Kesenian kentrung juga sebagai sarana penyampaian pesan pendidikan moral terhadap masyarakat setempat melalui pertunjukan kentrung yang didalamnya berisi parikan- parikan (pantun Jawa yang dilagukan atau dinyanyikan oleh dalang beserta panjaknya dengan iringan musik sederhana yang berisi pesan atau pitutur tentang nilai-nilai, moral dan etika kepada masyarakat). Dalam hal ini melalui cerita dan parikan- parikan yang disampaikan oleh dalang kentrung di setiap pertunjukannya.
Seni Kentrung tidak jauh berbeda dengan seni tradisional lainnya mengenai fungsinya di masyarakat. Kecuali sebagai hiburan, kentrung juga sebagai sarana upacara ruwat , perhelatan pengantin, khitanan, bersih desa, atau untuk memenuhi nadzar. Misalnya ada orang yang anaknya sakit, ia punya nadzar, jika anaknya sembuh akan ditanggapkan kentrung. Akan tetapi fungsi tersebut semakin berkurang. Bahkan sekarang hanya saat-saat tertentu kentrung dipertunjukkan
Seni pertunjukan Kentrung yang dimainkan bukanlah pertunjukan-pertunjukan sewaan yang memerlukan panggung megah ataupun listrik berdaya ribuan watt. Kentrung yang dibawakan ialah dengan cara mengamen. Teramat sederhana bentuk pertunjukan ini, kentrung yang dipentaskan dengan cara mbarang artinya kentrung dibawa ke jalanan dengan cara berjalan keliling-keliling dari satu kampung ke kampung lainnya berharap ada seseorang yang berkenan menanggap kentrung
Pertunjukan teater rakyat banyak terdapat di lingkungan kelompok suku di daerah-daerah di Indonesia. Suatu ciri yang tampak khas dari pertunjukan teater rakyat adalah bentuk dan gaya teater tutur/lisan Meskipun sebenarnya pertunjukan teaternya tidak menghadirkan peristiwa dramatik, namun seorang pencerita akan menuturkan secara lisan cerita dramatiknya (Sumardjo, 2004: 39).
Pada masa-masa sekarang ini keberadaan kesenian kentrung sepertinya terpinggirkan bahkan tidak terlalu mendapat perhatian, namun pada kenyataannya sampai sekarangpun kesenian ini masih ada, walaupun keberadaan kesenian kentrung tidak seramai pada masa 1970-an. Hal ini disebabkan teknik penyampaian yang lazim dipakai didalam cerita dengan cara diperdengarkan atau dipertunjukkan melalui improvisasi atau dasar sinopsis yang tersimpan dalam ingatan berdasar tradisi lisan. Maka, naskah-naskah tertulis jarang dijumpai, sastra lisan bentuk-bentuknya yang sejak dahulu dapat diikuti secara bebas oleh kalangan yang tidak terpelajar, ternyata memiliki pengaruh yang kuat. Menurut Ras (1992:23) di Jawa, sastra bagi kebanyakan orang masih merupakan sesuatu untuk didengarkan dan bukan untuk dibaca, sedangkan justru kehadiran naskah tertulis pada dewasa ini merupakan syarat mutlak untuk diterima sebagai sastra. Bentuk atau genre visualisasi, film, musik, dll, telah menggantikan dan mendominasi sastra-sastra tulis maupun lisan. Derasnya kesenian modern melalui televisi juga memiliki andil dalam melenyapkan ruang hidup kesenian tradisional di tengah masyarakatnya (Sunarwoto, 2001:9). 
Bila dilihat setiap zaman selalu didominasi bentuk atau genre tertentu (Sarup, 2003:306), hal tersebut dapat dilihat dari pendapat Nurtono (2003:20) yang menyebutkan pada dekade 1980-an budaya pop semarak demikian gencar, film produksi dalam negeri maupun luar negeri sangat laris manis. Gedung bioskop menyebar dimana-mana, sehingga penggemar ludruk mulai beralih ke bioskop, sedangkan jalannya kesenian ludruk harus terseok. Itulah penyebab tergesernya folklor, kesenian tradisional, baik itu ketoprak, ludruk, wayang orang maupun wayang kulit.
Saran-Saran
Seni Kentrung perlu kiranya untuk dilestarikan, karena di dalamnya terdapat nilai sastra, filosofi, petuah dan sekaligus hiburan. Manakala diupayakan adanya apresiasi kentrung masuk sekolah, yang melibatkan ahli sastra maupun dalang kentrung itu sendiri, mungkin akan membuka cakrawala peserta didik dan mengenalkan kembali, bahwa ia sebenarnya memiliki kesenian khas itu.
Cara pengemasan cerita perlu diupayakan agar tidak monoton. Bahkan mungkin juga diadakan modifikasi parikan yang memuat unsur-unsur pendidikan anak. Akan tetapi, untuk pergelaran yang berfungsi ritual, pementasan tetap mempertahankan kekhasannya, sehingga tidak mengurangi nilai-nilai yang bersifat spiritual.
Dari segi regenerasi, memang terdapat kesulitan, karena bercerita sambil menabuh terbang itu sulit. Karenanya, dapat juga kentrung dimainkan lebih dari satu orang, sehingga memudahkan dalang berkonsentrasi dalam bercerita.
Dianjurkan agar masyarakat tidak menganggap bahwa kesenian kentrung suatu pertunjukan yang negatif tetapi harus membuka pandangan dan mau mempelajarinya agar kesenian milik masyarakat tersebut tidak punah. Perlu dukungan dari pemerintah untuk mengembangkan dan melestarikannya.

Rujukan:
Hutomo, S.S.1993. Cerita Kentrung Sarahwulan di Tuban. Jakarta:Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Nurtono. 2003.  Ludruk Gema Tri Brata: Kesenian Tradisional Jawa Timur. Semeru, Juli no 322 hal 20.
Raharjo, J B. 1986. Materi Pelajaran Seni Teater (Drama). Bandung: CV Yrama
Ras, J.J. 1992. Sastra Jawa Mutakhir. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Sarup, M. 2003. Postmodernisme dan Poststrukturalisme. Suatu Tinjauan Pengantar Kritis.Yogyakarta: Jendela.
Soetarno. 1995. Wayang Kulit Jawa. Surakarta: CV Cendrawasih.
Sumardjo, J.2004. Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia. Bandung: STSI Press
Sunarwoto. 18 februari 2001. Kesenian Kentrung di Bibir Jurang Kepunahan. Jakarta: Republika



[1] Disajikan dalam diklat Blero 23-25 November 2012
[2] Demikian sepenggal pengantar cerita dalang yang dinyanyikan, atau setengah dinyanyikan (Hutomo, 1993:105) 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar